Tuesday, July 2, 2013

65 Model Pembelajaran Inovatif

Macam-Macam model pembelajaran PAIKEM dijabarkan sebagai berikut:
1. Koperatif (CL, Cooperative Learning).
Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembegian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih berinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.

2. Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif - nyaman dan menyenangkan. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.

Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara).
3. Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)
Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization, yaitu matematika horizontal (tools, fakta, konsep, prinsip, algoritma, aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan, proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio, pengemabngan mateastika).
Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis, realitas (kebermaknaan proses-aplikasi), pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi, informal ke formal), inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep), interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial, sharing), dan bimbingan (dari guru dalam penemuan).

4. Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)
Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).

5. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)
Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal.
Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri

6. Problem Solving
Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola, aturan, atau algoritma). Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas, siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan, siswa mengidentifkasi, mengeksplorasi,menginvestigasi, menduga, dan akhirnya menemukan solusi.

7. Problem Posing
Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing, yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soal-pertanyaan.

8. Problem Terbuka (OE, Open Ended)
Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker, keterpasuan, keterbukaan, dan ragam berpikir.
Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitakkan dengan materui selanjutnya, siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri).
Sintaknya adalah menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran, perhatikan dan catat reson siswa, bimbingan dan pengarahan, membuat kesimpulan.

9. Probing-prompting
Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru, dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan.
Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang, namun demikian bisa dibiasakan. Untuk mngurang kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah berpartisipasi

10. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning)
Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus, mulai dari eksplorasi (deskripsi), kemudian eksplanasi (empiric), dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat, eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan, dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda.

11. Reciprocal Learning
Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal, yaitu bagaimana siswa belajar, mengingat, berpikir, dan memotivasi diri. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna, merangkum, bertanya, representasi, hipotesis.
Untuk mewujudkan belajar efektif, Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal, yaitu: informasi, pengarahan, berkelompok mengerjakan LKSD-modul, membaca-merangkum.

12. SAVI
Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan penndepat, dan mennaggapi; Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunbakan media dan alat peraga; dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan.

13. TGT (Teams Games Tournament)
Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. SDetelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah , lembut, santun, dan ada sajian bodoran. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas.
Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan, atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Sintaknya adalah sebagai berikut:
a. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan
b. Siapkan meja turnamen secukupnya, missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara, meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok.
c. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen, setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai, sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior, very good, good, medium.
Bumping, pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketiga-keempat dst.), dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi, siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama, begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama.
e. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual, berikan penghargaan kelompok dan individual.
14. VAK (Visualization, Auditory, Kinestetic)
Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas, dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih, mengembangkannya. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI, dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic.
15. AIR (Auditory, Intellectualy, Repetition)
Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK, bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis.
16. TAI (Team Assisted Individualy)
Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver, 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi.
Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul, (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual, saling tukar jawaban, saling berbagi sehingga terjadi diskusi, (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif.

17. STAD (Student Teams Achievement Division)
STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen (4-5 orang), diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif, sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward.

18. NHT (Numbered Head Together)
NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu, berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa, tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok, presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan beri reward.

19. Jigsaw
Model pembeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. Pengarahan, informasi bahan ajar, buat kelompok heterogen, berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok, tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu, tuiap kelompok bahan belajar sama, buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi, kembali ke kelompok aasal, pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

20. TPS (Think Pairs Share)
Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal, berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs), presentasi kelompok (share), kuis individual, buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.

21. GI (Group Investigation)
Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan, buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas, rencanakan pelaksanaan investigasi, tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas, misal mengukur tinggi pohon, mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah, jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah, banyak guru dan staf sekolah), pengoalahn data penyajian data hasi investigasi, presentasi, kuis individual, buat skor perkem\angan siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.

22. MEA (Means-Ends Analysis)
Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic, elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana, identifikasi perbedaan, susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas, pilih strategi solusi.

23. CPS (Creative Problem Solving)
Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan, identifikasi permasalahan dan fokus-pilih, mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi, presentasi dan diskusi.

24. TTW (Think Talk Write)
Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan alternative solusi), hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi, dan kemudian buat laopran hasil presentasi. Sinatknya adalah: informasi, kelompok (membaca-mencatatat-menandai), presentasi, diskusi, melaporkan.

25. TS-TS (Two Stay – Two Stray)
Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. Sintaknya adalah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain, kerja kelompok, kembali ke kelompok asal, kerja kelompok, laporan kelompok.
26. CORE (Connecting, Organizing, Refleting, Extending)
Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep, (0) organisasi ide untuk memahami materi, (R) memikirkan kembali, mendalami, dan menggali, (E) mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan menemukan.

27. SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)
Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa, yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksama-cermat, dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatat-menandai kata kunci, Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana, darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar), Read dengan membaca teks dan cari jawabanya, Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama), dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh

28. SQ4R (Survey, Question, Read, Reflect, Recite, Review)
SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect, yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan.

29. MID (Meaningful Instructionnal Design)
Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitif-konstruktivis. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman, analisi pengalaman, dan konsep-ide; (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar;
(3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep

30. KUASAI
Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini, Kerangka pikir untuk sukses, Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar, Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai), Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya, Ajukan pengujian pemahaman, dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar.

31. CRI (Certainly of Response Index)
CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer, 1 untuk amost guest, 2 untuk not sure, 3 untuk sure, 4 untuk almost certain, dn 5 untuk certain.

32. DLPS (Double Loop Problem Solving)
DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah, jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. Selanutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut.
Sintaknya adalah: identifkasi, deteksi kausal, solusi tentative, pertimbangan solusi, analisis kausal, deteksi kausal lain, dan rencana solusi yang terpilih. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal, mengelompokkan gejala, menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi, mengidentifikasui kausal, imoplementasi solusi, identifikasi kausal utama, menemukan pilihan solusi utama, dan implementasi solusi utama.

33. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy)
DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan, penggunaan, dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. Sintaksnya adalah: persiapan, pendahuluan, pengemabangan, penerapan, dan penutup.

34. CIRC (Cooperative, Integrated, Reading, and Composition)
Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang, guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar, siswa bekerja sama (membaca bergantian, menemukan kata kunci, memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya, presentasi hasil kelompok, refleksi.

35. IOC (Inside Outside Circle)
IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan, 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar, separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam, siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan, siswa yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya, dan seterusnya.

36. Tari Bambu
Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama, siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan, siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya, dan kembali berbagai informasi.

37. Artikulasi
Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi, sajian materi, bentuk kelompok berpasangan sebangku, salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian, presentasi di depan hasil diskusinya, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan.

38. Debate
Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan, siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok, sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian, guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu.

39. Role Playing
Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran, menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut, pembentukan kelompok siswa, penyampaian kompetensi, menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya, kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil kelompok, bimbingan penimpoulan dan refleksi.

40. Talking Stick
Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat, sajian materi pokok, siswa mebaca materi lengkap pada wacana, guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru, tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya, guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi.

41. Snowball Throwing
Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum, membentuk kelompok, pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok, bekerja kelompok, tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain, kelompok lain menjawab secara bergantian, penyuimpulan, refleksi dan evaluasi

42. Student Facilitator and Explaining
Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian materi, siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya, kesimpulan dan evaluasi, refleksi.

43. Course Review Horay
Langkah-langkahnya: informasi kompetensi, sajian materi, tanya jawab untuk pemantapan, siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak, guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak, siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya, pemberian reward, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

44. Demonstration
Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. Langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian gambaran umum materi bahan ajar, membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok, menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya, dikusi kelas, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

45. Explicit Instruction
Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritma-prosedural, langkah demi langkah bertahap. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi, mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural, membimbing pelatihan-penerapan, mengecek pemahaman dan balikan, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

46. Scramble
Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar, buat kartu jawaban dengan diacak nomornya, sajikan materi, membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban, siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok.

47. Pair Checks
Siswa berkelompok berpasangan sebangku, salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan, pengecekan kebenaran jawaban, bertukar peran, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

48. Make-A Match
Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya, setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya, setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward, kartu dikumpul lagi dan dikocok, untuk badak berikutnya pembelajaran seperti babak pertama, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

49. Mind Mapping
Pembelajaran ini sangat cocok untuk mereview pengetahuan awal siswa. Sintaknya adalah: informasi kompetensi, sajian permasalahan terbuka, siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn, presentasi hasuil diskusi kelompok, siswa membuat kesimpulan dari hasil setiap kelompok, evaluasi dan refleksi.

50. Examples Non Examples
Persiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi, sajikan gambar ditempel atau pakai OHP, dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian, diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, valuasi dan refleksi.

51. Picture and Picture
Sajian informasi kompetensi, sajian materi, perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi, siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik, guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut, guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.

52. Cooperative Script
Buat kelompok berpasangan sebangku, bagikan wacana materi bahan ajar, siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman, sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi, bertukar peran, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.

53. LAPS-Heuristik
Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya, adakah alternative, apakah bermanfaat, apakah solusinya, dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. Sintaks: pemahaman masalah, rencana, solusi, dan pengecekan.

54. Improve
Improve singkatan dari Introducing new concept, Metakognitive questioning, Practicing, Reviewing and reducing difficulty, Obtaining mastery, Verivication, Enrichment. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep, siswa latian dan bertanya, balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi.

55. Generatif
Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi, pengungkapan ide-konsep awal, tantangan dan restruturisasi sajiankonsep, aplikasi, ranguman, evaluasi, dan refleksi

56. Circuit Learning
Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus, siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus, Tanya jawab dan refleksi

57. Complete Sentence
Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap, sampaikan kompetensi, siswa ditugaskan membaca wacana, guru membentuk kelompok, LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap, siswa berkelompok melengkapi, presentasi.

58. Concept Sentence
Prosedurnya adalah penyampaian kompetensi, sajian materi, membentuk kelompok heterogen, guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar, tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci, presentasi.

59. Time Token
Model ini digunakan (Arebds, 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi, tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit), siswa
berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon, setelah selesai kupon dikembalikan.

60. Take and Give
Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks, siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa - bahan belajar - dan nama yang diberi, informasikan kompetensi, sajian materi, pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu, dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian, evaluasi dan refleksi

61. Superitem
Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkat-bertahap dari simpel ke kompleks, berupa opemecahan masalah. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi, berikan latihan soal bertingkat, berikan sal tes bentuk super item, yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi, integrasi, dan hipotesis.

62. Hibrid
Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori, koperatif-inkuiri-solusi-workshop, virtual workshop menggunakan computer-internet.

63. Treffinger
Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan, penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill, proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minat-kuriositi-tanya, kelompok-kerjasama, kebebasan-terbuka, reward.

64. Kumon
Pembelajaran dengan mengaitkan antar konsep, ketrampilan, kerja individual, dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. Sintaksnya adalah: sajian konsep, latihan, tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai, jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi, lima kali salah guru membimbing.

65. Quantum
Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. Guru harus menciptakan suasana kondusif, kohesif, dinamis, interaktif, partisipatif, dan saling menghargai. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna, semua mempunyai tujuan, konsep harus dialami, tiap usaha siswa diberi reward. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak, alami-dengan dunia realitas siswa, namai-buat generalisasi sampai konsep, demonstrasikan melalui presentasi-komunikasi, ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman, dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan.
Rumus quantum fisika asdalah E = mc2, dengan E = energi yang diartikan sukses, m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi), c = communication, optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal.
Diposkan 9th December 2010 oleh Silvia Fransisca Sukma

Tuesday, June 4, 2013

Conto Pidarta Basa Bali



PIDARTA BALI

  Ngwangun Pariwisata Kapikukuhang Antuk Tri Hita Karana

"Om   Swastiastu"

Bapak Kepala Sekolah sane wangiang titiang.
Para Guru-guru sane wangiang   titiang.
Lan Stap Pegawe miwah Para Siswa sami sane kusumayang lan tresnasihin  titing.

           Ida dane sareng sami sayukti pisan sekadi mangkin, sami pada uning rumasa ring kawentenan kauripane pamekas iriki ring Bali sayan sukerta, sangkaning pidabdab duene sareng sami sane marupa wewangunan sekala molihing don. Inggih punika kasidan mapikolih. Mungguing bhoga, upabhoga, lan paribhoga sami sampun sapatuta. Sarana makadi margi, listrik genah malajah marupa sekolah, pasar, bale banjar, sampun wenten kadi babuatane. Punika sami silih sinunggil sangkaning panglimbak wewangunan pariwisata sane mapikolih. Lian ring punika, taler mapikolih ring utsaha nyujur karahayuan jagat. Satata ngulati, ngastiti mangdawaras, seger pinaka bekel nglaksanayang swadarmane, ngulati nitenin mangda keneng-keneng masemeton, keneng-keneng briak-briuk makrama banjar, makrama desa. Santukan malarapan antuk keneng-keneng punika, karya sane abot dados           angan.

           Sakadi sampun kauningan kepariwisataan ring Bali sampun mawiwit saking riin daweg pemerintahan Welanda. Duk warsa 1935, ring Denpasar kawangun Bali hotel, sane kantun rajeg kantos mangki. Punika cihna tetamian kepariwisataan ring Bali. Punika awinan Bali punika dadis tatujon wisata sane sampun kaloktah ring dura negara. Akeh jejuluk sane kapicayang sakadi : "Pulau Seribu Pura", "Pulau Dewata", muah sane siosan. Sane prasida nginggilan Bali punika tanwenten seos ring kautaman kebudayaan Baline sane rumaket ring agama Hindu, tur katampa antuk kaasrian gumi Bali punika.

           Sakadi kauningan para wisatawan punika rauh ka Bali gumanti maliang-liang, nglila ulangun, malancaran nyegara gunung, nonton unen-unenan muah ilen-ilan, matumbasan barang-barang kesenian anggen ipun temon-temon. Ipun taler meled uning tur nyingak asliaban indik tatakrama upakara saking embas kantos seda, ngamargiang panca yadnya manut agama Hindu.

           Sejeroning malancaran nglanglang ulangan janten makueh sane buatang ipun mangda pamargine wiakti nglangunin dewek ipun. Indike punika pastika akeh pikenoh lan puaran ipun, wentwn sane becik taler wenten sane kaon. Puara sane becik inngih punika ngruak genah makarya sane prasida ngirangin pangangguran, ngwentenang genah makaryamautsahanincapang kawikanan, nincapang pikolih marupa artha, ngwerdiang tur madabdaban sahana seni lan budaya Bali. Puaran sane kaon, akeh para jana banjar utaminipun para daha truna maparisolah sane tan manut ring budaya utawi jati ragan wangsa, pangarganbarang dados mael, makeh pisan tanah carik lan pabianan magentos dados sarana wisata, sane ngawinang wedesa ued magingsir saking genah          ipun.

           Panglibakan pawangunan pariwisata ring Bali sampub kalintang jimbar, rumasat sampun ngebek. Ring sabilang kabupaten muah kota, sampun kapastikayang indik obyek wisata muah kawasan pariwisata punika. Manut pangrencana panglimbakan punika boya mandeg rauh irika. Pidabdabe pacing kalanturang sakadi ngwangun hotel sane ageng, lapangan golf, pasar swalayan, nglinggahin margi muah makarya sane anyar, ngwangun wantilan genah nyolahang unen-unen muah ilen-ilen, pasar seni muah sane         lianan.

           Ritatkala nglimbakang wewangunan pariwisata punika manut dudonan pangrencana, mangda kapikukuhan antuk Tri Hita Karana : tetiga pidabdab sane prasida ngametuang tatiga karahayuan jagat, inggih punika : Parahyangan, Pawongan, lan Palemahan. Parhyangan punika genah suci umat Hindu mangda janten-janten kasuciang olih pngepon pariwisatane, nenten cemer tur nenten sayan rusak. Pawongan, wong Bali sane neunang tur ngraksa pariwisata mangda sareng ngawerdiang, sareng midabdab sahanan genah utawi tetujon wisatene mangda asri pamekas taler ring budaya Baline. Indik palemahan, janten wenten karang suwung, karang palemahan sane katandurin antuk wit-wit taru sane mapikenoh sajeroning kahuripan. Mangda nenten sami kagentosin antuk wewangunan beton, hotel, cottage, saha pirantin ipun. Wewangunan kasidan magda kaanutang ring sejeroning pidabdab lan pangrencana sane sampun kasungkemin olih para jana Baline, sajeroning peraturan daerahlan awig-awig desa adat.

           Nyarca indik pidabdab, pikeneh lan puaran wewangunan parwisata : tetojon lan genah wisata ring Bali wiakti makueh pisan babutan lanparantinyane. Sakewaten titiang nguningayang I wawu wantah akidik pinaka jalaran anggen pinget gumantingulati pamargi sane becik taler anggen pidabdab, anggen nincapang wewangunan pariwisata, kebudayaan lan kesenian Baline kapungkur wekas sayan becik. Mogi-mogi rasabakti, sutindih paramabela ring wangsa, desa lan negara sayan-sayan nincap

Bapak Kepala Sekolah, Guru-guru, Stap Pegawe miwah Siswa sareng sami sane tresnasehin titing, asapunika atur titiang ngindikang menakadi Ngrajegang Ksusilan, make kirang langkung lan manawi wenten tan manut ring arsa, sekadi unjuk lungsur, anggah ungguhin basa, titiang nunas geng rena sinampura. Pinaka pingintat atur titiang antuk parama shanti,

"Om Shanti, Shanti, Shanti Om"






Ngrajegang Pariwisata Ring Bali

 

            Matur suksma majeng ring pangenter acara pecentokan mapidarta basa Bali, santukan galahe sane becik puniki kapica ring pasikian titiange. Ida dane sareng sami, pamekas ring para manggala karya lan para panureksa sane dahat suksamyang titiang, para panodia lan para yoana miwah para pamiarsa sami sane banget tresnasihin titiang, sadurung titiang matur amatra, pinih riin ngiring sareng-sareng ngastiti bhakti ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa, majalaran antuk panganjali,

"Om    Swastyastu"

            Mogi-mogi sangkaning sih pasuecan lan asung kertha wara nugraha Ida, prasida titiang ngiring ida dane sareng sami ngamangguhang karahayuan lan karahajengan jagat. Ring genah lan galahe sane becik puniki, lugrayang titiang matur amatra sane mamurda "Ngrajegang Pariwisata Ring     Bali".

            Ida dane para sameton titiang sareng sami sane wangiang titiang, sakadi napi sane sampun kawikanin sareng sami indik kepariwisataan ring Bali sampun becik saking daweg pemerintahan Welanda. Duk warsa 1935, ring Denpasar kawangun Bali Hotel, sane kanten rajeg ngantos mangkin pinaka cihna kapertama, tetamian kepariwisataan ring Bali. Punika mawinan Baline dados tatujon wisatane sampun kaloktah ring dura negara. Akeh jejuluk sane kamedalang saking kaasrian Polu Baline sakadi : "Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura", miwah sane siosan. Punika sami sangkaning angob ipun ngatenang, nyingak kawentenan kahanan Pulo Baline nenten sios ring kautaman kebudayaan Baline, sane rumaket ring tatwa, susila, lan upacara agama Hindune. Silih tunggil sane banget ngrajegang budaya Baline inggih punika indik falsafah "Tri Hita Karana" sane prasida ngamolihang kasukertan jagat lan kesenian Pulo Baline. Majalaran falsafah Tri Hita Karana punika jagat Baline prasida ajeg, santukan falsafahe punika prasidanuntun para janane ngamecikang parhyangan pinaka sarana genah ngaturang bhakti ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tri Hita Karana prasida nuntun ngamecikang pawongan pinaka sarana ngiket paiketan pasametonan ring Bali, Tri Hita Karana prasida nuntun palemahan pinaka sarana ngamecikang indik wewidangan Baline ngantos asri saking kota rauh ring desa-desa. Santukan gumi Baline katon asri lan udarane sejuk, kenten taler para janane ring Bali yening nerima tamiu sami ramah tamah, ngranayang para turise seneng rauh ka Bali malila cita lan nglila ulangun. Saking senengnyane ring Bali makeh torise sampun numbas tanah lan makarya wangunan ring Bali. Upaminipun nguangun Hotel miwah vila-vila genah para torise sane tiosan sane tetujon dane taler melancaran. Tiosan ring punika wenten taler sane tetujonnyane matiosan upaminipun madolan lan matumbasan barang-barang kesenian. Yadiastun asapunika iraga para sameton Bali patut siaga ring para tamiu sane rauh ka Bali, utamanipun ngeninin indik katereptian (ketertiban lan keamanan) Pulo Baline. Iraga mangda mresidayang milihin pamekasne para pacalang, sapasira sane dados ngranjing ring Bali, miwah sapasira sane nenten kadadosang ngranjing ring Bali.

            Yadiastun tamiune punika marupa tamiu domestik patut iraga waspada pisan, mangda nenten malih keni bencana bom sekadi ring Kuta duk warsa 2002 lan 2005, sane lumrah kawastanin bom Bali. Sane mulang bom punika nenten sios tamiu domestik saking Jawi sane mawasta Amrosi lan sawitran-sawitrannyane sane setata melaksana corah lan himsa karma mamati-mati.

            Bencana bom inucap makeh para wisatawane sane keni bencana ngantos padem dados abu tan keni antuk ngelingang sawannyane. Siosan ring tamiu dura negara makeh taler tamiu domestike sane padem, kenten taler wenten para sameton Baline makeh sane padem. Bencan bom Bali punika ngranayang para tamiu dura negarane jejeh pisan rauh ka Bali sane ngranayang Pulo Baline sepi. Santukan nenten wenten toris rauh ka Bali makeh pisan para pangusaha-pangusaha pariwisata sane nguredang selanturipun bangkrut, sakadi : hotel-hotel, vila-vila, art shop - art shop lan pasar seni pada sepi laut matutup. Bom Bali puniki makeh pisan dampakne, pamekasne makeh karyawan sane nganggur tan polih pakaryan. Dampak sane pinih banget indik krisis ekonomi, wewangunan akeh sane macet, dagang udu, ten wenten toris sane matumbasan nganggen jinah dolar. Dampak-dampak puniki nenten je ring Bali kemanten, nanging ka sajebag negara Indonesia keni krisis   ekonomi.

            Majalaran pengalaman bom Bali punika ngiring iraga sareng sami mawas diri, mulat sarira miwah waspada marep ring para tamiu sane rauh ka Bali mangda kapreksa olih pacalang utawi petugas keamanan, yening nenten nganutin sekadi awig-awig mangda ka stop nenten kadadosang ngranjing ring sawewidangan Bali  puniki.

            Inggih wantah amunika atur titiange, yening wenten kirang langkung atur titiange, titiang nunas gung rena sinampura. Mogi-mogi wenten pokenohnyane. Pinaka panguntat titiang ngaturang parama shanti.

"Om Santih, Santih, Santih, Om"




Basa Bali Mangde Ajeg

 

Om    Swastiastu

Inggih ida dane sareng sami, utamanipun       :
Ibu guru sane dahat wangiang   titiang
Punika taler para semeton pamilet sane tresna sihin   itiang

Sedurung titiang nglantur matur, Ngiring sareng sami ngaturang suksemaning manah pamekas majeng ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa, melarapan antuk pasuecan ida, iraga sareng sami prasida mapupul iriki, manggihin karahayuan sekadi                                mangkin.

Ibu guru sane dahat wangiang   titiang
Ring galahe sane becik puniki, lugrayang titiang matur samatra nganinin indik “Ngiring Rajegang Basa Bali      Druene”.

Kawentenan pulo Baline pinaka pulo wisata budaya sane sampun kaloktah doh kantos ke dura Negara. Sampun sami uning tur pawikan, punika sami ngawinang jagat Baline kaparinama olih para janane "pulau seribu pura, pulau dewata, pulau surga utawi the last paradise". Napi sane ngawinang pulau Baline kaparinama    asapunika?

Sane ngawinang pulau Baline kaparinama asapunika tur kasenengin olih para janane boyaja tios, punika santukan keasrian palemahan pulau Baline, katuku malih antuk seni lan budaya maka miwah para jana Baline sane ngandap kasor utawi kuma warga, sami punika kadasarin antuk agama Hindu sane pinaka dasar mapineh jatma Baline. Nepek pisan ring tatuek miwah pamarginnyane minakadi panca yadnya sane kabaos ring kecap sastra agama. Punika kamanah antuk titiang ngawinang jagat Baline kasub ka dura           Negara.

Sane mangkin menawita majalaran sane sampun odar titiang. Pinunas titiang ring Iratu ida dane sareng sami ngiring dadabin indik kasukertan jagat Baline mangda kayang kawekas Rajeg lan lestari.

Silih tunggil sane kanggon nguratang tur ngewerdiang seni budaya inggih punika nenten sios wantah Basa Bali druene sane pinaka tetamian utawi warisan saking leluhur iragane jatma Bali, punika ngawinang iraga patut bangga dados putra-putri Bali, pinunas titiang sumangdane budayane nenten rusak tur       punah.

Mangdane nenten iraga kabaos "Kadi katak sane wenten ring sor tunjunge", I kekupu saking doh ipun ngrasayang kamiikan ipun i sekar tunjung, sakewanten I katak yadiastun nampek ring genahe punika, setata nyongkok nenten ngerasayang kamiikan i sekar tunjung sane kalintang ngulangunin.

Suksmanipun, iraga jagat Baline akeh pisan madue seni budaya, sane luihin utama kabaos adiluhung, ngawinang akeh parajanane saking dura Negara meled pisan manah ipun ngantenang seni budaya druene, sakewanten iraga sane magenah ring Bali nenten pati rungu kapining budaya druene, mangda nenten kadi            asapunika.

Basa Baline silih tunggil pinaka pangeling iraga dados jatma Bali, punika sane mawinang iraga mangda tetep ngangge basa Bali rikalaning mabaos sajeroning pagububan utawi pasawitran. Yening iraga nenten ngangge basa Bali druene sinah kesujatian iraga dados jatma Bali ical utawi ilang.

Inggih ida dane sane tresna sihin     titiang.
Yadiastun sane mangkin makueh pengaruh-pengaruh sane makta budaya miwah seni sane jaga nyaihin wiadin munahang seni budaya Baline . Sakewanten yening sampun iratu ida dane sareng sami eling ring kawentenan sastra Bali prasida antuk nyaringin pengaruh seni budaya sane jaga ngrangsuk ring sejeroning budaya     Baline.

Mawanti wanti titiang mapinunas ring iratu ida dane sareng sami mangda ngangge basa Bali druene mangda tetep Rajeg tur                           Lestari.

Wantah asapunika prasida aturang titiang ring ida dane sareng sami. Yening pat prade wenten iwang atur titiang minabte nenten manut ring arsa, manawita sangkaning Basa Basita, tata titi miwah anggah ungguh basa. Duaning titiang rumasa ring dewek kantun muda tur wimuda. Titiang nunas geg rena pengampura, pinaka pinguntat atur titiang, sineb titiang antuk parama santih


Om santih santih santih Om



Wiweka Anggen Jalaran Ngruruh Kajagadhitan

 

Om Swastiastu,

        Inggih ida dane sareng sami pamekas ring panureksa sane dahat kusumayang titiang, para pamilet lomba pidarta Basa Bali sawewidangan kota Gianyar, saha para sisya, utawi para yowana sane prasida nyarengin pamargin pacentokan ring tepengan mangkin sane banget tresna sihin titiang. Sadurung titiang nglanturang matur amatra, pinih riin ngiring sareng-sareng ngastiti bakti ring IDA SANG HYANG WIDHI WASA, mogi-mogi sangkaning sih pasuecan lan asung kerta waranugrahan ida prasida titiang ngiring ida dane sareng sami gumanti satata ngamanggehang karahayuan, karahajengan, tur titiang prasida taler ngamolihang sidaning don.

Ring tepenganne utawi galah sane becik puniki, ritatkala nyarengin lomba pidarta Basa Bali puniki, lugrayang titiang matur amatra, marupa pidarta sane mamurda “Wiweka Matetimbang Becik Lan Patut Ngruruh        Kajagadhitan”.

Ida dane sareng sami sane wangiang titiang, mawit murda punika, tincapang titiang mangkin sapunapi parilaksanan manusane sakadi titiang utawi ida dane ninutin pamargin ring sajeroning kahuripan puniki jagi nyujur sane kawastanin           jagadhita.

Pinaka pangawit wenten ketus titiang saking karya sastra, sane marupa gaguritan sane mamurda “Geguritan Nengah Jimbaran”. Yening rerehang untengnyane saking daging geguritan punika, ida sang rakawi sampun ngawikanin tur sampun taler misaratang ring sang sane jagi ngwacen geguat tangan idane, mangda ring sajeroning iraga ngamargiang drama kehidupan serahina wengi punika, nenten dados lipia tur ngutang pepineh sarahina-hina ring sajeroning tetimbang sane kawastanin wiweka. Punika yening iraga kayun satata kasengguh manusa. Mawinan,

Manusa punika ngaran manu,

Napi punika Manu? Nenten lian wantah sang sane satata nasarin kahuripannyane antuk dasar papineh, punika wantah I              manusa.

Manusa ngaran  manawa,

Napi punika manawa? nenten lian wantah dasar hukum i manusane ngrereh tetimbang becik lan patut, sane kadasarin antuk tetindakan hukum manawa, sida riwekasan nepasin wicara nyujur karahyuan.

Manawa ngaran   Danawa,

Yening sampun kahuripan puniki kadasarin antuk manawa, mangdane sida dados sane kawastanin manusa danawa, manusa sane maduwe parilaksana sakadi para dewatane.
Inggih ida dane sane kusumayang titiang, yening selehang tur waliang titiang malih, napi mawinan kadasarin kahuripan iragane antuk wiweka? riantukan iraga pinaka manusa satata ngamangguhang sangsaya, nenten teteg ring pakayunan, satata ibuk, tur jejeh ring sajeroning pikobet. Sawiakti asapunika, saking sangsayane pnika mangda iraga lali, nenten ngaenang jengah mikayunang nincapang dwek, satata nngutang-ngutang raos, nguyutang padewekan sareng anak tiosan. Yening kari asapunika, pastika napi sane jagi kajujuh nenten prasida kapanggihin, riantukan iraga kantun kakuub sareng sane kawastanin ahangkara, yening nika nenten sida kaeret ring sajeroning manah, punika sane jagi ngrebeda pinaka iblis sane satata makrana ibuk ring sajeroning kayun, wicara, lan        parilaksana.

Inggih ida dane sane kusumayang titiang, sadurung titiang muputang atur, ngiring ja iraga sareng-sareng saking mangkin nincapang guna widya kaweruhan soanng-soang utamanyane uning ring padewekan, satata ngeret indria tur kukuh lan lascarya ngamargiang kahuripan, tur nenten lali bhakti ring para leluhur miwah Hyang Widhi, mandane iraga satata ngamangguhang karahayuan sekala-niskala, nenten kirang pangan lan sandang.

Inggih wantah asapunika prasida antuk titiang matur amatra, manawita wenten sane tan manut ring arsa, sakadi unjuk lungsur, anggah ungguhing basa, titiang nunas geng rena sinampura. Untatin titiang antuk parama shanti

.



Om shantih shantih shantih Om.